Layang Bayang

                   Sore itu aku pergi meninggalkan rumah. Menjauhkan diri dari pandangan ibu. Tujuanku sudah pasti jelas. Dengan layang layang yang aku selempangkan memeluk bahu, dan segulung benang di tangan aku menuju sawah. Setengah perjalanan ku jumpai teman seperjuangan ku. Ya, sama sama akan berjuang menerbangkan layang layang. Entah nanti sebagai kawan atau lawan. Tompel namanya,…

Kata Kata Buatan Ku

  Kata Kata Buatan Ku   Genggam tangan ku erat Aku akan berjalan selangkah di depan mu   ——————————————————————————- Mata hati mereka mati Namun tak pernah membangkai ——————————————————————————-   Pikiran yang tak disuarakan adalah bayi yang tidak pernah lahir ——————————————————————————- Jangan lah menangis Kecuali tawa sudah tak lagi mampu menahan bahagia ——————————————————————————-  Aku adalah rakyat…

Petak Pak Petani

                Sebelum ayam jantan menyerukan satu satu nya kalimat yang ia mengerti. Pak Tani sudah meraih cangkul dan sabit. Membangunkan sapi yang semalaman lelah mengunyah rumput. Mengikatkan badan ke gerobak kayu tua. Yang sama tua nya dengan Pak Tani.                 Nampak berjalan dengan malas sapi itu. Seperti se-ember besar rumput hanya mampu menghasilkan tenaga untuk…

Ibu – Bunda ku

Bagaikan mendung tanpa hujan Bagaikan waktu tak berjalan Jika penyair tak mengaduk kata untuk Ibunya   Aku ingin kan kau Bunda Jangan lah menangis Kecuali tawa sudah tak lagi mampu menahan bahagia   Aku tak mampu bicara Tak mampu menyusun kata – kata Puisi ini berubah menjadi cerita Puisi ini berubah menjadi penebusan dosa  …

Di Sekitar Ku

Mentari pagi datang lagi Cahyanya menembusi celah celah daun Diantara suara burung yang bernyanyi Di bawah mega biru bersih   Angin berhembus manja Seperti kau bersandar dibahuku Menggugurkan hanya sedikit daun Daun yang layu Sungguh baik hati angin pagi hari   Tanah ku terlihat basah Ulah embun semalam Yang pagi ini singgah sebentar di ujung…

Aku Sedang Sedih

Hujan yang turun adalah air mataku Kekasih ku Orang yang ku cintai sekaligus melukai   Kepada siapa kusandarkan air mata hati Jika dia yang memiliki Adalah hulu   Ingin ku pergi Namun bayangmu selalu mendekap Dengan duri Tersenyum menusuk diri   Satu hal yang ku tau pasti Engkau telah melukai Laki – laki yang tulus…

Si Bangsa, Anak Ibu Pertiwi

Saat teriak lantang perjuangan berkobar kobar Tergantikan rintihan para penjilat Saat keris dan panah berdarah darah Tergantikan rincingan kaki mungil tikus tikus koruptor   Entah bagaimana Ibu Pertiwiku masih mampu berdiri Dengan selendang dan jarik menyusui Bangsa yang masih bayi Sementara diri sendiri digerogoti Oleh Bangsa tak berbeda   Di kursi rotan Ibu Pertiwiku menangis…

Puisi Lagi, Puisi Cinta Lagi

Entah Aku tidak tahu Berapa banyak ujung pena tergores Berapa banyak bahasa terucap Untuk menulis puisi Puisi lagi, Puisi cinta lagi   Mungkin, kemungkinan Tiap bintang di langit nya malam adalah Adalah puisi cinta yang tak tersampaikan Bersinar redup rendah, malu dan menghilang Terganti dengan puisi cinta baru, yang juga tak tersampaikan   Betapa miskin…