Petak Pak Petani

                Sebelum ayam jantan menyerukan satu satu nya kalimat yang ia mengerti. Pak Tani sudah meraih cangkul dan sabit. Membangunkan sapi yang semalaman lelah mengunyah rumput. Mengikatkan badan ke gerobak kayu tua. Yang sama tua nya dengan Pak Tani.
                Nampak berjalan dengan malas sapi itu. Seperti se-ember besar rumput hanya mampu menghasilkan tenaga untuk mengunyah ember rumput berikutnya. Menuju sawah, hari masih pagi gelap. Namun matahari berjanji, akan datang tidak lama lagi.
                Melihat sawah bekas panen milik nya bulan lalu, Pak Tani tersenyum sambil berdoa, kepada Tuhan. Di dalam hati ia berucap, agar kali ini panen nya dapat melunasi sisa hutang ke rentenir penghisap yang tak kenal kenyang itu.
                Berdoa saja tentu tidak cukup, dengan memegangi caping di kepalanya Pak Tani melompat turun dari gerobak tua yang hanya berjalan sedikit lebih cepat dari siput berlari. Melepaskan tali ikatan yang menyatukan Sapi dengan gerobak. Mengambil besi pembajak di belakang, lalu mengikatkan kembali ke punggung sapi. Ah, dasar sapi yang tak setia. Sepagi saja sudah mempunyai ikatan dengan gerobak dan pembajak sawah.
                Untuk pertama kali di hari ini, kaki Pak Tani menginjak lumpur. Ya, pertama kali yang ke sekian sejak 26 tahun yang lalu. Senasib dengan sapi. Mulai menenggelamkan diri sepenuhnya ke petak sawah. Petak sawah yang tiap keturunan semakin sempit karena di jual dan di bagi waris.
                Mulai membajak sawah, dengan sangat pelan mengikuti hembusan angin yang masih dingin. Sedikit cambuki punggung sapi, agar berjalan sesuai dengan yang Pak Tani ingini. Nampak  matahari mulai menepati janji. Terlihat anak kecil berangkat ke sekolah. Berkata dalam hati Pak Tani, “aku sedang mengusahakan kehidupan, aku menanam untuk masa depan”.
                Ya, memang berbeda. Dari sudut pandang bocah hanyalah Pak Tani yang sedang mencari nafkah dengan menanam padi dan umbi. Tapi dari sudut pandang mata hati Pak Tani, dialah orang yang selalu berusaha untuk menumbuhkan sumber kehidupan manusia.
                Ah, begitu cepat hari. Matahari sudah lebih dari menepati janji. Berada tepat di atas ujung ubun – ubun caping Pak Tani. Haus dan lapar. Bagaimana bisa orang yang menumbuhkan sumber kehidupan manusia merasa lapar. Siapa yang akan menolongnya. Tentu saja, Pak Tani memiliki satu harapan. Yang pasti datang, dan sudah mulai nampak dari kejahuan. Istri yang berjalan mendekat, membawa teko dan dandang nasi. Berisi teh panas tanpa gula kesukaan Pak Tani.
                Memperhatikan sang istri yang telah menua bersama, Pak Tani tak mengalihkan pandangan. Sejak dari ujung jalan, sampai di ujung tangan. Dekapan cium tangan sang istri setia, penghapus rasa lelah dan gelisah.
                Berdua mereka makan. Sambil memperhatikan sapi yang sudah mulai kelelahan. Aku yang juga memandang mereka berdua, Nampak begitu bahagia. Dengan besi pembajak masih di punggung ku, aku mengharapkan agar Pak Tani selalu membangunkan ku tiap pagi. Untuk menarik gerobak, dan membajak sawah nya. Menemani Pak Tani, menanti istri datang menghampiri.
 (Dicky Puja Pratama – Satu Suara Berjuta Telinga)
Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Hehe
    Masih membingungkan ceritanya
    Thanks broooh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s