Daftar Kontak

Simul mempunyai seorang kawan, yang sesama kuli bangunan, bernama Tarman. Tarman mengidap penyakit alzhemeir alias sering lupa alias pikun di usia muda. Padahal ia belum sempat menikah. Tapi Tarman pernah memiliki seorang kekasih. Ketika ia dan kekasih nya sedang berkencan untuk pertama kalinya, mereka pergi ke pasar malam. Namun sial, setelah memutuskan untuk memasuki wahana…

Media (anti) Sosial

Membuat ku bingung Ini bukan puisi lho ya Jadi tak bakal puitis Ini kenyataan   Hari ini kalau kau buka media sosial Nelangsa hati mu jadinya Orang yang salah berargumen Di debat Di damprat Di semprot dengan ludah yang keluar saat berteriak koar koar Toots keyboard pada mencelat pantang perintang Layar hape touch screen retak…

Lukisan Kata Kata

Aspal tergelar Dari telapak kaki ke ujung mata Selebar bentangan tangan Diapit sawah yang terpaku padi Berakhir di kaki pegunungan Para petani Beramai mencangkuli Teko teh dan gelas plastik Tergeletak dibawah pohon kersen Sekawan Burung Bangau putih Menancakpan paruh di tanah Yang padi nya baru di tanam kemarin Masih rendah Anak anak pondok pesantren Berpeci…

Simul Sedang Menjadi Kuli Bangunan

Simul sedang menjadi kuli bangunan. Ia tidur dan tinggal di dalam rumah yang sedang ia kerjakan. Dengan tembok bambu yang menyekat ruangan besar yang belum jadi itu menjadi seukuran 3 x 3 meter. Lampu hanya menyala di dalam nya, sehingga menyisakan gelap di penjuru ruangan besar diluar nya. Lalu saat malam tiba kawan nya berkata,…

Terlunta (Eposide ke 3)

Baca dulu : Episode 1, Episode 2 Adzan maghrib sedang berkumandang. Menggema-gema ke segala penjuru Desa Parikesit. Akan tetapi matahari masih saja menyinari langit. Malah lebih indah lagi dari siang panas yang dilalui Sarti dan Karmin si bayi mungil tadi. Sinar jingga kemerahan mewarnai langit, berpadu dengan segumpal awan mendung yang hitam, menggambarkan lukisan megah…

Telah Lama Ku Ingat

Di sebuah pasar yang melamun Di tepian pantai yang merenung Wanita renta setengah baya Menjajakan dagangan nya Nampak kacang rebus yang kusam dan sedih Tak lagi hangat Kerupuk yang tak lagi semangat Melempem Teh hangat yang loyo dalam plastik bening Mengkerut Selendang jarik yang pasrah dijadikan alas kesedihan Tak tahu siapa yang dia tunggu Ia…

Melihat dan Merasakan

Melihat tukang becak di tengah kemacetan kota, di klakson pengendara motor yang merasa sedikit lebih kaya, Simul ingat paman nya di desa. Melihat kuli bangunan sedang mengaduk semen untuk pembangunan hotel yang tak mampu ia inapi, Simul ingat sepupu nya. Melihat pengamen yang bernyanyi dengan anak nya di warung warung yang bersandar pada emperan toko…