Melihat dan Merasakan

Melihat tukang becak di tengah kemacetan kota, di klakson pengendara motor yang merasa sedikit lebih kaya, Simul ingat paman nya di desa.
Melihat kuli bangunan sedang mengaduk semen untuk pembangunan hotel yang tak mampu ia inapi, Simul ingat sepupu nya.
Melihat pengamen yang bernyanyi dengan anak nya di warung warung yang bersandar pada emperan toko yang sudah tutup, Simul ingat bapak dan diri nya sendiri.
Melihat wanita tua bercaping yang sedang memanggul kayu dipunggungnya untuk bahan bakar tungku, Simul ingat nenek nya.
Melihat anak – anak gelandangan kecil yang bermain bola diantara gubuk gubuk liar, Simul ingat adik nya.
Melihat lelaki setengah baya melamun di halte bus yang sepi setelah keluar dari ruangan kantor bos nya dan menerima surat PHK, Simul ingat tetangganya.
Melihat wanita membawa karung dan merenung di depan gang dengan tulisan besar “pemulung dilarang masuk”, Simul ingat ibu nya.
Tidak seperti kebanyakan orang, Simul sudah tidak peduli dengan kata-kata “di mana peran pemerintah?”.Kata kata yang tak lagi bermakna. Kata kata ketinggalan zaman.
Memang saat ini Simul bukan seorang kepala RT, apa lagi Kepala Kelurahan. Simul adalah bagian dari apa yang ia lihat. Ia hanyalah rakyat biasa. Tapi ia memiliki rasa cinta dan kasih yang begitu tinggi, kepada orang-orang yang dilihatnya. Bagi Simul, meskipun tidak ada jabatan untuk banyak berbuat, tidak ada tenaga yang cukup untuk membantu, tidak ada uang untuk sedikit diberikan, tapi tak pernah seorang pun bisa menyalahkan, muncul nya rasa kepedulian di hati Simul. 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s