Terlunta (Eposide ke 3)

Baca dulu : Episode 1, Episode 2

Adzan maghrib sedang berkumandang. Menggema-gema ke segala penjuru Desa Parikesit. Akan tetapi matahari masih saja menyinari langit. Malah lebih indah lagi dari siang panas yang dilalui Sarti dan Karmin si bayi mungil tadi. Sinar jingga kemerahan mewarnai langit, berpadu dengan segumpal awan mendung yang hitam, menggambarkan lukisan megah dibawah kanvas mega nan maha luas. Juntaian kabel listrik milik PLN yang hanya sehelai, di gantungkan pada sebatang bambu yang berderet deret rapi membentuk siluet, menuju ke dalam desa yang asri itu. Tiap hitungan genap batang bambu itu dipasangi lampu bohlam yang bersinar pelit, tempat laron, ngengat, dan segala suku bangsa serangga lain nya berkumpul. Jelas PLN lebih memilih bambu dari pada menggunakan tiang listrik kokoh pada umumnya yang sering dipasang diperkotaan. Dana untuk membuat tiang beton itu baru akan balik modal 1000 tahun lagi. Mengingat perangkat elektronik penyerap daya terbesar hanyalah TV tabung 21 inch, milik juragan sapi yang terkenal seantero desa. Sementara rumah rumah sekitarnya hanya memiliki benda pemakan listrik satu satu nya yaitu bohlam. Mereka menarik kabel yang berasal dari rumah jurgan sapi itu. Nyambung listrik istilah nya. Memang belum banyak rumah disekitar desa yang terkucilkan itu.

Sarti yang masih menggendong Karmin bayi kesayangan nya dengan selendang berjalan mengikuti aliran kabel PLN itu. Mengikuti kemana aliran listrik itu berhilir. Naluri nya seperti suku bangsa serangga, dia menuju tempat paling terang, rumah juragan sapi. Begitu sampai di depan rumah yang memiliki lebar halaman depan begitu luas, Sarti melihat seorang lelaki berkumis tebal, seperti kebanyakan orang Madura. Duduk dikursi plastik yang ada sandaran nya, bersarung, menghisap rokok keretek, dan didepan nya, tersaji kopi hitam gelas kecil di atas meja. Dengan sedikit senyum sambil berjalan, menandakan ia ingin menjalin hubungan komunikasi dua arah dengan lelaki Madura itu, Sarti mendekat. “Selamat malam Pak, numpang tanya” tanya Sarti. “Ada apa dek, lem malem bawa anak keluyuran?”, jawab lelaki Madura itu dengan logat Madura. Wajah lelaki itu terlihat garang, seakan ingin menclurit siapa saja yang ia ajak bicara, tapi semua warga desa tahu, kalau sebenarnya dia berhati lembut, dan Sarti bisa merasakan nya. “Apakah Bapak tahu rumah Pak Topo, sopir truk?” Tanpa jeda Cak itu menjawab, “Ah Topo kuntet, jelas aku tahu. Lima tahun dia bekerja pada ku. Ada perlu apa adek dengan si kuntet itu?” Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab Sarti. Seperti soal terakhir pada pendadaran yudisium baginya. Ia hanya memberikan jawaban yang tak membuat lelaki itu puas. “Hanya ingin silaturahmi saja, Pak”. “Po Topo, tumben sekali ada yang mau bersilaturahmu dengan mu. Adek berjalan saja mengikuti kabel yang mengarah ke utara ini, ini kabel satu satu nya yang langsung menuju rumah si Topo itu”, itulah petunjuk berharga yang di dapatkan Sarti. Tanpa basa basi, setelah berterima kasih, ia dan Karmin yang sedang koorporatif tanpa rewel sedikitpun, berjalan lagi mengikuti kabel yang menjuntai layu.

Ditengah perjalanan yang belum diaspal itu, ia berpapasan dengan sepeda motor 2 tak yang suara mesin nya melebihi kecepatan nya sendiri. Asapnya seperti lampu Aladin yang akan mengeluarkan jin setinggi 7 kaki. Pelan pelan menuju kearahnya, lampu depan nya redup. Suku bangsa serangga paling pedalaman pun tak sudi berkerumun pada nya. Ketika berpapasan, kejadian itu seperti reka ulang gol indah Roberto Carlos kala mencetak gol melengkung saat piala dunia, slow motion. Waktu berjalan lebih lambat. Lalu Sarti mendapati Topo adalah si pengendara motor penyebab polusi udara paling tinggi se Desa Parikesit itu. Ia terlihat senyum. Seperti menikmati malam nan syahdu dengan motor butut dan kemelaratan nya. Dan yang membuat waktu benar benar berhenti bagi Sarti adalah, wanita cantik yang dibonceng nya. Saat itu Topo mengetahui benar bahwa Sarti ada dihadapan nya, tapi ia lalui begitu saja. Nampak tak peduli. Lalu hanya tinggal kepulan asap yang tak mau pergi karena memang tak ada angin yang berhembus sedikit pun. Si kecil Karmin mulai memberontak, kemungkinan nya karena kena asap motor atau tahu nasib yang sedang menusuk nusuk hati Ibu nya. Saat itu juga Sarti berdiri dan hanya diam saja. Karmin ragu ragu ingin menangis, ah dasar bayi kemarin sore, Karmin dianugerahi naluri yang luar biasa. Ia tahu kapan harus menangis, kapan harus tidur. Tapi tak pernah tahu kapan ia harus buang air besar, waktu pelaksanan nya tak tentu.

Dengan untaian selendang yang tersisa untuk menggendong Karmin, Sarti menutupi wajah nya. Ia menjerit dalam hati, air matanya deras. Tak percaya pada apa yang dilihatnya. Topo satu satu nya lelaki harapan sandaran hidup Sarti dan anak nya, telah serong bin selingkuh. Dan lebih menyakitkan nya lagi, dia mampu menggaet wanita cantik. Tak tahu lagi Sarti akan kemana melanjutkan langkah kaki. Ia berlari sekencang kencang nya sambil memegangi gendongan Karmin. Menuju ke rumah juragan sapi dan mengangis sejadi jadinya. Sontak seisi rumah juragan sapi itu keluar, tapi tidak dengan sapi sapi nya. Hanya istri, dan 3 orang anaknya.

picture

 

 

Advertisements

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s