Simul Rakyat Rendahan

Yang dimiliki seorang pemuda adalah semangat, tekad, dan keberanian. Jika ketiga unsur itu hilang, lenyaplah panji panji perjuangan

Simul adalah rakyat rendahan. Bapaknya seorang buruh gendong di pasar. Pekerjaan nya menggendong barang belanjaan milik para priayi dan para pembesar lainnya. Padahal sewaktu kecil, Simul jarang – jarang digendong bapaknya. Padahal lagi, bapak nya Simul tak pernah menggendong barang belanjaan nya sendiri. Barang apa juga yang mau digendong, tidak ada yang lebih berat untuk digendong ketimbang beban hidup nya sekeluarga.

Simul berusia 14, perawakannya kecil. Ia begitu lincah kala berjalan. Tapi cita – citanya untuk menggantikan pekerjaan bapak nya terancam kandas. Sudah terlihat dari sekarang, dari kekuatan fisiknya yang lemah. Ia seperti ilalang yang dihembus angin laut. Begitu gesit, tapi tak mampu menahan beban yang berat. Kalau mau dikembangkan lagi, kegesitan nya akan bermanfaat jika ia memilih jalan menjadi maling atau berandal. Ia akan dengan mudah meliuk liuk melewati haling rintang saat emak – emak yang ia ambil uang recehnya mengejar.

Tapi tak ada yang tahu hal ini. Di dalam hatinya yang kecil, sedang membara benih api semangat seorang manusia. Seorang manusia yang tertindas oleh ketidakadilan. Ia besar dan hidup di kampung miskin. Sudah setiap hari ia melihat tetangga – tetangga nya yang berjarik, kotor dan udik, selalu membungkuk-bungkukkan badan ketika bendoro juragan kayu jati lewat. Namun ketika bendoro itu lenyap dari pandangan, dan ketika angin sudah tak mampu membawa suara sampai ke telinga nya, tetangga Simul dengan penuh kebencian mengumpat dan mengutuki bendoro itu. Tetapi tidak dengan Simul, ia tak menunduk, dan tidak juga mengumpat. Ia berdiri sendiri. Ia adalah karang yang tak gentar di hempas keras gelombang. Sebesar dan sekaya apa pun bendoro itu, sama sekali tak menciutkan hati Simul. Tidak seperti para tetangganya.

Suatu kala, disaat Simul sedang bermain gasingan yang terbuat dari buah kelapa kecil, bapak nya tercinta memanggil. Simul merasa heran, karena seharusnya sekarang bapak nya sedang susah payah menggendong belanjaan para priayi yang seperti tidak ada habis nya.

“Mul, pulang ! Mandilah dan gunakan baju terbaik mu. Pakai juga parfum bapak”

“Ada apa Pak? Mau ke mana kita?”

“Bukan kita, tapi kamu. Sudah jangan tanya lagi, manut Bapak”

Semembara apa pun semangat dan keberanian dalam hati Simul, dihadapan bapak nya ia tunduk dan patuh. Maka ia segera melakukan perintah bapaknya.

Sebuah kebahagian tak terperi Simul mendapatkan mandat untuk menggunakan parfum bapaknya. Parfum itu disimpan di dalam botol setinggi jari telunjuk, ditutup kain, diletakkan dalam almari, dan kuncinya ditaruh di bawah tikar alas tidur. Selesai Simul mandi, bapaknya mendatangi.

“Sekarang kamu kumpul sama kawan kawan mu, lalu bergegas menuju rumah bendoro!”, perintah bapaknya.

“Ada apa Pak?” tanya simul rintih

“Sudah…manut Bapak, berangkat sana!”

Teman teman nya sudah menunggu dibawah pohon beringin nan rimbun. Ia bergegas mendekati rombongan teman teman sebaya nya itu. Ada teman nya yang tadi bermain gasing bersama, tanpa sandal dan tanpa baju, sekarang terlihat begitu rapi. Dalam hal ini, segala kesedihan Simul perlahan sirna. Tersapu oleh parfum bapaknya yang hanya digunakan ketika hari hari besar saja. Wangi bunga lavender nan menyejukkan hati semerbak berhamburan. Senyum nya mengembang. Ia merasa sebagai seorang yang paling wangi se kampung nya yang miskin. Lalu didepan, kepala kampung mendehem, dan menyumpat segala keriuhan.

“Hari ini bendoro sedang membutuhkan kuli baru untuk mengurusi kudanya, kalian akan dipilih. Jadi jangan tunjukkan keudikan kalian didepan bendoro. Jangan bikin malu kampung kita ini”, kata kepala kampung.

Semua wajah anak anak lelaki itu nampak sumringah, kecuali Simul. Maka berangkatlah mereka semua menggunakan delman menuju rumah bendoro kayu jati.

Sampai dipelataran rumah bendoro, semua nampak seperti orang yang baru saja hidup. Melihat kemegahan rumah bendoro, mulut mulut bocah itu pada menganga. Kecuali mulut Simul. Kepala kampung mendadak muntab

“Apa aku bilang?! Jaga keudikan kalian, bersikap yang sopan di depan bendoro, sungkem jangan lupa. Jangan bicara kalau tak perlu, jangan plongah plongoh. Jangan sok tau, jangan rewel”

Beribu tanya menyeruap dalam pikiran Simul. Untuk apa larangan semua itu? Dirinya tak pernah dilarang oleh siapapun untuk seperti itu. Kenapa hanya kepada bendoro kita harus seperti itu? Apa itu sungkem? Belum habis pertanyaan, ia sudah didorong oleh rombongan untuk meniti tangga yang berderet begitu panjang.

Mereka disambut seorang wanita paruh baya, berjarik, tak beralas kaki. Lalu diperintahkan untuk memasuki pendopo yang begitu luas. Pesan kepala kampung barusan tak terindahkan. Mereka tak bisa diam mengagumi kemegahan rumah bendoro. Lukisan yang besar, patung – patung, guci, almari, buku buku tebal, semua menimbulkan kekaguman. Mulut mereka terus saja membuka, seperti ikan ikan dalam akuarium. Ciri khas kekaguman kepada sesuatu yang tak terelakkan.

Tiba tiba wanita paruh baya datang dan menegur rombongan bocah kampung itu.

“Diam, bendoro mau masuk! Duduk yang rapi”

Segala bentuk riuh rendah dan keudikan bocah bocah itu lenyap seketika. Mereka diam membisu seribu bahasa. Lalu terdengar suara selop dari balik pintu besar berventilasi. Suara itu datang semakin dekat. Dan terdengar suara yang besar dan gagah seorang lelaki seperti memberi perintah dengan tegas kepada seseorang. Lalu handle pintu berdecit.

Rombongan bocah bocah itu sudah sujud bersimpuh, menyerupai menyembah. Dan bendoro pun masuk. Ia menyapukan pandangan dari kanan ke kiri. Melihat deretan bocah bocah macam ikan asin yang berderet bersujud. Lalu diujung barisan, mata bendoro terhenti. Ia melihat Simul beridiri seorang diri.

Simul yang dari tadi keheranan karena tingkah laku teman – teman nya, sekarang lebih heran lagi. Karena jarang jarang ia melihat seorang lelaki berperawakan tinggi besar dan bersih. Tapi tak ada rasa ketakutakn sedikitpun dalam hatinya.

“Siapa jeneng mu? Siapa bapak mu? Kerja apa bapak mu? Keturuan siapa keluarga mu?”, bendoro merasa tak dihormati.

“Aku Simul, anak nya Pak Tarjo, buruh gendong. Aku keturunan dari simbah ku”

“SUJUD !!!”, gertak bendoro

Simul diam saja tak goyah sedikitpun.

“Kenapa harus?” tanya Simul

“Karena kasta mu jauh dibawah ku”

“Siapa yang mentukan kasta?”

“Nasib, sudah dari lahir kastamu ditentukan serendah itu, serendah seperti sekarang. Nami!!!!”, teriak bendoro memanggil wanita paruh baya tadi. Dengan berjalan merunduk cepat, Nami datang mendekat lalu bersimpuh didepan bendoro.

“Saya bendoro”, ucapnya penuh rintihan, tau bendoronya sedang marah

“Panggilkan kepala kampung sekarang,! Dan suruh bocah bocah ini pulang ke kampung nya!!”

Dengan sambil memberi penghormatan terakhir, Nami melaksanakan perintah bendoro dan meminta bocah bocah untuk berjalan mundur sambil bersimpuh. Tapi Simul. Ia balik kanan dan berjalan dengan tegak gagah berani. Bendoro semakin memuncak amarah nya.

Nami menyampaikan perintah bendoro kepada kepala kampung. Mengetahui ada hal yang tidak beres, kepala kampung berjalan sambil berkata kepada bocah bocah,

“Kalau sampai ada sesuatu, masa kecil kalian tidak akan bahagia”

BERSAMBUNG>>>>>>>>

 

picture

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s