Simul Rakyat Rendahan (Part 2)

Baca Dulu Part 1, klik disini

Di hadapan feodalisme, tahta saling bertumpang tindih. Yang berada ditengah, ia menginjak dan juga di injak.

Kepala kampung memasuki pendopo. Begitu memasuki ruangan, seakan telapak kaki nya sudah tak mampu menapak lagi. Ia bersimpuh berjalan merangkak, seperti bayi kurang gizi. Bahkan kepala kampung yang berusia lebih tua melakukan hal itu, ia tak berani menatap wajah bendoro. Sampai diharibaan bendoro yang sedang duduk di balik meja kayu jati nan gagah perkasa, kepala kampung semakin memantapkan sujud nya.

“Kau kepala kampung bocah – bocah itu?”, kata bendoro dengan raut muka tak senang.

“Sahaya bendoro.”

“Tak pernah kau beri tahu pada mereka siapa aku?. Tak pernah kau didik bagaimana seharusnya mereka dihadapan ku?”

“Sahaya bendoro, maklumi bocah – bocah kampung”

“Siapa nama mu?”

“Sahaya Surko bendoro”

“Bawa pulang bocah bocah tengik itu, jangan sampai kau buat aku melihat mereka lagi ! Jangan harap ada manusia dari kampung mu yang bekerja untuk ku !  Tak sudi sepijak pun tanah ku kalian masuki ! PERGI !!!”

“Sahaya bendoro”

Lenyap sudah kewibawaan kepala kampung di hadapan penduduk nya, di hadapan bocah bocah itu. Ketika ia sedang menghadapai kasta yang lebih tinggi, hilanglah sudah kehormatan selama ini. Tak pernah tercium di hidung bendoro kayu jati, kepala kampung yang selalu dituruti kata – kata nya oleh masyarakat di kampungnya. Kepala kampung yang selalu disegani oleh masyarakat di kampungnya. Yang selalu dimintai wejangan nya kala derita. Yang selalu dikirimi beras, teh, dan gula disaat warganya memilili rejeki berlebih.

Keluar dari pendopo, kepala kampung langsung muntab dihadapan bocah – bocah itu.

“Apa yang terjadi? Kau mau taruh mana muka ku? Muka ibu bapak mu di kampung?”

Salah satu dari bocah bocah itu angkat bicara. Ia menceritakan tabiat Simul dihadapan bendoro.

“Benar begitu, Mul ?!” gertak kepala kampung.

Simul hanya menunduk. Ia tak tahu bahwa yang telah diperbuatnya adalah keliru dan melanggar aturan feodalisme.

“Sekarang kita pulang, jangan cari aku kalau terjadi sesuatu pada kalian”, ucap kepala kampung pupus harapan.

Satu minggu setelah kejadian itu, ketika Simul sedang bermain gobak sodor bersama teman teman nya, bapaknya pulang tidak sesuai jadwal. Bapak terlihat lunglai dan lesu. Seperti tulang tulang dalam tubuhnya telah mencair. Kekuatan yang biasa digunakan untuk menggendong berkilo kilo belanjaan para priayi seperti terhempas badai nan ganas. Simul sadar ada sesuatu hal tidak baik sedang menimpa bapaknya. Maka ia memutuskan untuk menyudahi permainan dan menyusul bapak untuk pulang.

Sesampainya di rumah, bapak sudah duduk di lincak. Simul mengambil segelas air putih lalu ia hidangkan untuk bapaknya. Ibunya yang dari tadi sedang mengolah jagung dan nasi kering untuk dimakan lagi, seketika menghentikan pekerjaannya. Lalu mereka berkumpul di teras rumah untuk mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.

Rupanya sudah lima hari ini tidak ada priayi yang menggunakan jasa bapak untuk menggendong barang belanjaan di pasar. Padahal biasanya tak kurang dari tujuh kali dalam sehari bapak mondar mandir menggendong belanjaan. Bapak sudah mencoba menawarkan diri kepada priayi yang terlihat memiliki banyak belanjaan untuk dibawa. Namun ketika melakukan nya, para priayi itu melihat lihat muka dan tubuh bapak dengan seksama, lalu menolak nya. Mereka lebih memilih memanggil kuli gendong yang lain. Betapa runtuh hati bapak, ia tak tahu apa yang terjadi.

Sehabis maghrib pada hari yang sama, kepala kampung yang sempat marah dan berkata untuk tak peduli tentang apa yang akan terjadi pada warganya, datang ke rumah Simul. Rupanya kata – kata yang diucapkan di depan rumah bendoro kala itu hanya gertak sambal. Ia tetap sayang dan cinta kepada setiap warganya. Kepala kampung sudah tau tentang apa yang terjadi pada bapak. Ia menceritakan semua :

Ternyata apa yang terjadi adalah buntut dari tabiat Simul ketika tak mau bersimpuh dihadapan bendoro. Bendoro kayu jati meminta kepada priayi – priayi yang kasta nya berada di bawahnya untuk mengenali wajah bapak. Mereka dilarang menggunakan jasa bapak untuk menggendong barang belanjaan. Siapa lagi yang mampu membayar buruh gendong, dan siapa lagi yang barang belanjaan nya pantas untuk di gendong selain milik para priayi. Maka dengan kata lain, para priayi memboikot satu satu nya mata pencaharian yang dimiliki bapak.

Mengetahui hal tersebut, bapak malah justru terlihat lega. Kekuatan buruh gendong nya kembali lagi. Ia tak terlihat untuk memarahi Simul. Justru raut wajah bangga dan mata yang berkaca – kaca ia tampakkan.

“Biar anak ku yang melawan, biar aku yang menjadi korban. Kita sudah terlalu lama ditindas, kita sudah terlalu lama berhina dina” ungkap bapak lirih seperti mau menangis. Kepala kampung hanya diam dan mencoba mengerti.

“Anak ku Simul, bahkan bapak pun tak berani untuk melawan ketidakadilan ini, tapi kau yang masih bocah memiliki keberanian yang begitu hebat”.

Bapak merasa bangga, ia melupakan beban hidup nya yang kian bertambah. Bahkan bapak belum memikirkan pekerjaan pengganti apa yang bisa dilakukan untuk bisa membeli nasi kering buat keluarga. Simul yang sedari tadi mendengarkan percakapan bapak dengan kepala kampung semakin bertambah keberanian nya. Kepala kampung senang tak alang kepalang, ia merasa seperti memiliki teman seperjuangan. Ternyata selama ini hatinya juga ingin berontak, tapi ia selalu merasa sendiri. Sepertinya setelah kejadian ini, bibit bibit perjuangan akan mulai bersemi dan berkobar.

Bersambung >>>>>>>>>>

picture

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s