Ustadz Desa di Masjid Kota

Salihun, Takmir Masjid Kota Ramai Besar sedang kelabakan. Tergopoh gopoh menuju sepeda motornya yang kencling. Dia baru saja mendapat kabar melalui grup WA Takmir Masjid Kota Ramai besar jikalau ustadz yang seharusnya mengisi Kultum sholat Tarawih nanti malam tak dapat hadir karena sedang tidak enak badan. Jam tangan mengkilapnya sudah tidak lagi enak dipandang. Jarum panjang di angka enam, jarum pendek diantara angka empat dan lima. Sebentar lagi adzan Magrib menggema. Ia tak tahu harus menghampiri siapa? Walau begitu ia tetap menyalakan sepeda motornya dan melaju entah kemana.

Lima belas menit Salihun melaju tanpa arah dan ia sampai di depan gapura yang terbuat dari tiang bambu. Di atasnya dipasang papan yang dengan cat kuas bertuliskan Desa Sepai. Ia ingat dengan salah satu ustadz yang paling terkenal di desa itu, namanya Ustadz Simul. Ustadz itu tak hanya diandalkan warga Desa Sepai untuk mengisi khotbah, tapi juga sebagai penasehat jika suami istri sedang congkrah, atau anak laki laki yang tak bisa di nasehati, atau anak perempuan yang tak mau menurut kata orangtua, atau bahkan acap kali seorang ibu rumah tangga mengonsultasikan suaminya yang jarang pulang ke rumah. Tapi Ustadz Simul tak pernah di panggil di masjid kota. Ia selalu setia singgah di masjid desa, atau bahkan surau surau sederhana, yang masih beralaskan tanah dan tikar.

Tapi kali ini lain cerita, ketika Ustadz Simul sedang mengajar ngaji anak anak di desa nya, datanglah Salihun dengan sepeda motornya yang kencling. Suara knalpotnya membuat suara anak – anak TPA membaca Al – Quran lambat laun semakin lenyap, dan hilang sama sekali. Amir yang sedang mengaji dengan Ustadz Simul memalingkan pandangan ke luar Surau demi melihat sepeda motor Salihun yang kencling. Anak anak yang sedang bermain gobak sodor di halaman bubar jalan dan mendekati sepeda motor Salihun yang kencling itu. Sepeda motor di standarkan, Salihun berjalan ke Surau. Anak anak semakin mendekati sepeda motor Salihun yang kencling, mulut agak terbuka, tapi tangan tak berani sedikitpun menyentuhnya.

“Assalamualaikum Pak Ustadz”

“Walaikumsalam”

“Perkenalkan Pak Ustadz, saya Salihun dari Takmir Masjid Kota Ramai Besar, begini Tadz, apakah nanti malam Ustadz berkenan hadir untuk mengisi Kultum Sholat tarawih?”

“Apa tidak salah dengar aku? Apa aku ini benar benar di undang untuk berkhutbah di Masjid sebesar itu?”

“Jelas tidak salah, Ustadz. Kalau berkenan nanti akan kami jemput menggunakan . . . . . .’

“Tak usah, biar nanti saya berangkat sendiri”

Salihun senang tak alang kepalang, ia tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Masjid semegah itu tak ada pengisi khutbah nya. Karena terburu mengurusi buka bersama di Masjid, Salihun mengucapkan terima kasih lalu bergegas pulang.

Tak seperti biasa, buka puasa kali ini Ustadz Simul hanya meminum segelas teh hangat lalu bergegas pergi menggunakan sepeda tuanya. Sepeda itu seperti menggercitkan gigi nya ketika di kayuh, “kriet, kriet, kriet”, seperti itu kurang lebih. Karena jarak dari rumah ke Masjid Kota Ramai Besar cukup jauh, tak ada waktu bagi Ustadz Simul untuk berlama lama berbuka puasa.

Sesampainya di halaman Masjid Kota Ramai Besar, Ustadz Simul kebingungan harus di sandarkan disebelah mana sepeda tuanya ini. Karena standar samping nya sudah jatuh hilang di jalan beberapa waktu lalu. Jadi sepeda itu harus disandarkan pada suatu benda yang cukup kokoh. Ustadz Simul menuntun sepedanya ke kiri masjid, tapi itu tempat parkir mobil, tak mungkin sepedanya disadarkan pada mobil, akan lecet mobil itu oleh stang sepeda nya yang sudah tak ada karet gengamannya. Ke bagian kanan masjid, tapi itu adalah tempat parkir motor, tak mungkin sepedanya disandarkan pada motor motor itu, bisa bisa jadi jatuh seperti permainan domino. Hampir putus asa, mendadak Ustadz Simul sumringah, didekatnya ada bak sampah yang di cor menggunakan besi. Jangankan sepeda bututnya, sapi pun tak akan lepas jika di cencang pada bak sampah itu.

Segera Ustadz Simul mengambil wudhu dan duduk di shaf terdepan dekat mimbar. Jamaah shaff terdepan terlihat tak tenang, celingak celinguk, tengok kanan, toleh kiri, lihat belakang, lihat samping. Biasanya sudah ada seorang ustadz bersorban, paling tidak pakai peci dan bawa sajadah sendiri untuk mengisi khutbah, tapi sampai kurang dari tiga menit sholat di mulai, tak nampak juga ustadz itu.

Iqomah sudah berkumandang, semua jamaah berdiri, lalu Salihun yang juga berada di shaff terdepan mempersilakan Ustadz Simul untuk maju di shaff  khusus imam dan menjadi imam. Jamaah terheran heran, namun menunda keheranannya untuk sejenak melaksanakan shalat Isya. Tapi sebentar, Ustadz Simul kebingungan, di sajadah nya ada kabel kecil lumayan panjang, ia menyingkirkannya. Untung saja Salihun sigap, lalu ia memasangkan mikrofon kecil itu kepada Ustadz Simul. Maklum saudara, di Surau Desa Sepai tak ada yang namanya mikrofon kecil, yang bisa di kancingkan pada kemeja sehingga ketika imam sujud, suaranya bisa masuk ke dalam amplifier lalu dikeluarkan melalui speaker.

“Allahu Akbar”, Ustadz Simul memulai sholat Isya. Bacaan Al Fatihah nya tidak dilama lamakan, tidak juga dicepat cepatkan, qalqalah nya juga tidak berlebihan. Semuanya pas, seperti manisnya madu, seperti senyumnya bunga desa, dan seperti porsi menu buka puasa, pas sekali.

Setelah sholat Isya selesai, tibalah waktunya berkhutbah, dan pada saat itu juga, tibalah kembali terheran heran jamaah tetap Masjid Kota Ramai Besar dengan seorang ustadz yang baru pertama kali mereka lihat. Sarungnya begitu kumul, penuh lubang disana sini. Itu karena bara rokok kretek Ustadz Simul yang selalu ia hisap setelah makan, dan juga disumbangkan oleh setrika istrinya yang masih dengan arang, sehingga percikan apinya membuat sarung satu satunya itu berlubang bulat dengan jari jari yang sempurna. Kemejanya yang dulunya berwarna kuning, sekarang berwarna putih kekuningan, luntur, itu karena bilasan istrinya pada batu batu kali terlalu keras. Tak hanya pudar, kekuatan bilasan batu kali istrinya itu membuat kain itu kian hari kian menipis, hingga kaos dalam Ustadz Simul yang robek bisa terlihat jika mata jamaah sedikit jeli. Pecinya yang dulunya dihiasi benang border berpola mozaik khas Turki, kini tinggal lubang lubang nya saja, sudah tinggal jejak jarum yang pernah menusuknya saja, dan benangnya, hanyut oleh arus sungai tempat istrinya biasa mencuci. Sajadah yang ia tinggalkan di tempatnya menjadi imam tadi, sudah tak lagi bergambar, awalnya jelas itu adalah gambar kubah masjid dengan hiasan bulan dan bintang diatasnya. Sekarang bagaikan kanvas pelukis yang baru dibeli dari toko.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh”, salam Ustadz Simul dijawab dengan kebingugnan. Jamaah ragu ragu, jangan – jangan mereka salah ustadz. Namun ketika ditengah tengah khutbah, Ustadz Simul menceritakan tentang malam Lailatul Qodar. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang pada saat itu Al – Quran diturunkan. Sudah banyak ustadz yang menyampaikan materi ini, namun Ustadz Simul mampu membuat semua jamaah memperhatikannya, seperti anak – anak TPA yang sedang diajarkannya mengaji.

“Dahulu, 350 tahun Indonesia dijajah oleh Jepang, oleh Belanda. Nenek moyang kita di paksa bertani, lalu hasilnya di bawa ke Jepang, di bawa ke Belanda”

Lanjutnya, “Apa jadinya andaikan Bung Karno tak memproklamirkan kemerdekaan? Kita sekalian tak akan pernah bisa dengan tenang berpuasa seperti sekarang ini, kita sekalian akan kelelahan usai dipaksa bertani. Lalu, bagaimana jika pada masa yang lebih lampau lagi, Al – Quran tidak diturunkan? Luar biasa Nabi Muhammad S.A.W. Hanya dengan waktu 23 tahun, beliau mampu membuat zaman yang benar benar jahiliyah, menjadi zaman yang terang benderang. Dahulu kala, jika seorang suami meninggal, dan ia memiliki anak laki laki, maka sang ibu diwariskan kepada anaknya. Naudzubillah. Tapi lihat sekarang, apa yang telah diluruskan oleh Al – Quran, oleh Nabi kita Muhammad S.A.W, maka kita harus banyak banyak bersyukur. Bahkan sekarang, dalam Al – Quran ada surat An – Nisa, maha besar Allah.”

Usai berkhutbah, hati jamah begitu bergemuruh, bahkan ada yang tak bisa menahan untuk tidak bertepuk tangan. Luar biasa, baru kali ini Bung Karno disebut sebut dalam masjid megah itu, dan baru kali ini materi khutbah begitu sederhana dan mengena. Nampaknya jamaah sudah begitu lama rindu dengan ustadz desa, ustadz yang mengabarkan kedamaian Islam, kelembutan Islam.

picture

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s