Tertinggalkan

Mas, aku sudah berdoa, Tuhan pasti dengar. Dan sebelum aku mengadu resah, Tuhan sudah pasti tau. Satu satunya kekuatan kita adalah : percaya kepada-Nya

Jam 2 siang, sudah menjadi kebiasaan baru suami ku duduk di kursi di teras rumah, bersama radio kesayangannya. Tatapannya kosong, kopi panas yang ku suguhkan sedari pagi masih setengah gelas. Hisapan tembakau nya lebih dalam dari biasanya. Ah kau mas, suami ku, betapa aku bisa dengan begitu jelas mengetahui perasaan mu yang berderaikan air mata.

Betapa aku masih bisa dengan begitu jelas melihat dengan mata terpejam maupun terbuka kejadian 1 minggu yang lalu. Saat teman teman mu yang sesama kuli itu datang ke rumah. Setelah ku antarkan suguhan teh yang sengaja ku buat bening agar kita berhemat itu, dan duduk bersama mu dan teman teman mu, aku tak bisa berhenti untuk tidak merasakan kesedihan.

“Besok lusa akan ada proyek besar, Jo. Di Jakarta. Bayangkan, di Jakarta ! Ah, bisakah kau membayangkannya?”, pembicaraan awal tamu ku itu pun dimulai, bersama malam yang terus berjalan di luar rumah.

“Aku dan Mus kemarin siang di datangi Pak Mandor, ditawari proyek itu. 2 tahun target pembangunan proyek perumahan elite itu, Jo. Bayangkan. 2 tahun! Tak perlu pusing kepala mencari orang yang butuh tenaga kita seabagai kuli, setidaknya selama 2 tahun!”. Sambung Asep, teman suami ku. Dan Mus yang dijadikan objek pembicaraan pun tersenyum sambil mengangguk dan memegangi tembakau yang terus mengepul. Sumiku? Hanya diam saja.

“Biaya perjalanan ke Jakarta ditanggung, uang untuk makan tak usah dipusingkan. Bagaimana bisa, Jo? Seumur umur baru kali ini aku tak memusingkan soal makan, semua ditanggung Pak Mandor. Ah, ah, Jakarta memang manis, Jo.” Suami ku menghisap tembakaunya, asap membumbung menelusup ke atap, menyatu dengan malam di luar.

Asep meneruskan celotehnya lagi, dan suamiku masih mendengarkan baik baik. “Rencananya, Pak Mandor akan mengajak kuli kuli yang ada di kampung kita, setidaknya itu yang dikatakannya kemarin. Sudah berapa lama kau menganggur, Jo?” Ah, pertanyaan itu, sedikit mengusik hati suami ku. Tapi secercah harapan untuk bekerja di Jakarta sepertinya sedang mendekati suami ku. Kali ini giliran suami ku buka bicara.

“3 Bulan sudah aku menganggur, Sep. Kaupun demikian, Simus pun demikian pula, proyek di Jakarta sepertinya menjanjikan,” Ya Tuhan, terima kasih, lama tak kulihat senyum bahagia suami ku. Harapannya untuk kembali bekerja semakin jelas terlihat. Dia tak akan menyesal setelah menjual perhiasan ku untuk modal membeli sekop, meteran, dan peralatan kuli bangunan nya yang sudah rapuh dan tua dimakan usia. Tak mudah membujuknya untuk mau mengantarkan ku menjual perhiasan peninggalan marhum orangtua ku ini.

“Jelas menjanjikan, Jo. Tapi sayang, Pak Mandor bilang kita sudah cukup orang, jadi kau tak bisa ikut ke Jakarta, Jo. Tinggalah kau seorang kuli dari desa kita yang tak berangkat ke Jakarta. Itu yang jelas dikatakan Pak Mandor sebelum aku ke sini.”

Setelah Simus dan Asep pamit pulang, suami ku tak juga beranjak dari duduknya. Aku rasai sepucuk jarum menusuk pelan kedalam hatinya, dan menghisap sisa sisa kebahagiaannya.

Menjadi lelaki yang menganggur 3 bulan tentu bukan hal yang tidak membuat hati ini merasa nelangsa, apalagi kesadaran sebagai kepala keluarga.

Dan Simus dan Asep, Ya Tuhan, tak habis pikir, bagaimana bisa dengan riang gembira mereka bertamu ke rumah dan mengabarkan berita yang mencabik hati suami ku. Suami ku yang tak banyak bicara, suamiku sendiri.

Dan jam telah menunjukkan pukul 3 sore. Radio suami ku mulai mendedangkan musik keroncong yang sudah ditungguinya sejak pagi tadi, sejak ku antarkan kopi ini ke meja yang sama. Dan aku harus berpamitan kepadanya pergi ke hutan untuk memetik daun ketela untuk makan malam nanti.

Selalu dalam perjalanan kaki ke hutan ku panjatkan doa agar suamiku kembali mendapat tawaran pekerjaan sebagai kuli.

Mas, meski kau semakin lama menganggur, dan semakin lama tak punya apa apa, tapi aku akan tetap mencintaimu dengan segala yang tak kau miliki.

picture

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s