Saat Musim Kemarau Berangkat Pulang

Waktu itu hujan begitu deras.
Aku dan Juf terjebak pada sebuah warung tenda, di depan stasiun.
Benar benar deras hujan kala itu, sampai aku berkata pada Juf :
“Aku yakin di atas sana, dari balik mendung ini, Tuhan sedang berbahagia”.
Itu adalah hujan pertama, setelah musim kemarau sedang berangkat pulang, entah ke mana.

Dari balik titik hujan yang turun, ku lihat seseorang sedang mengayuh becaknya.
Tanpa jas hujan, jelas jelas tubuh nya basah kuyup.
Pada kabinnya tertutup sebuah plastik transparan, sebagai pelindung tuan penumpang dari basahnya hujan.
Kekuatannya adalah, doa anak istri dari rumah.

Muncul dari kejauhan, ku dengar seorang bekas penumpang kereta memanggil manggil entah siapa.
Melambaikan tangan, dengan suaranya yang tenggelam pada derasnya hujan.
Lalu datang seorang lelaki tua, berpayung, dengan celana panjang yang di lipat agar tak terlalu basah.
Sudah ku pastikan, dia OJEK PAYUNG.
Satu satu nya payung yang melindunginya dari serbuan hujan ia berikan pada tuan penumpang.
Dan dengan begitu ikhlas dia menelanjangi dirinya pada hujan yang tak kunjung reda.

Dari atas sana Tuhan berbahagia.
Dari sini, tukang becak, tukang ojek payung, berbahagia.
Selamat datang musim hujan.
Selamat tinggal kesedihan.

picture

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s