Harapkanlah Pada KU

Dan telah kutinggalkan segala keresahan, di kota tempat tinggal ku Sudah sedari pagi, angin berhembus kencang Datang jauh jauh dari Samudera Hindia nan maha luas Melalui pintu gerbang laut jawa Melewati Jogja dengan segala kenangan indah yang selalu ku bawa ke mana saja Mengusap padi padian yang terhampar Menjadi teras desa ku kini Meluruhkan butiran…

Sepeda Busuk, Kardus, dan Sapu Lidi

Harta benda miliknya yang pasti Ialah sepeda busuk, kardus, dan sapu lidi Mereka yang selalu mengikuti kemanapun ia pergi Mereka saja yang akan bersedih ketika ia mati Sementara itu nasi dan harapan Sekali saja tak pernah berani mengucap janji Akan berpihak padanya dalam hari hari Orang orang lalu lalang Berjalan terus kedepan Sekali saja tak…

AL

Puisi ku ini pelan pelan Seperti awan yang menyendat sinar rembulan Seperti bicara mu Puisi ku ini hangat Seperti cahya mentari yang membias embun Seperti senyum mu Puisi ku ini merah jingga Seperti milik senja Seperti bibir mu Puisi ku ini sederhana Seperti hati masyarakat desa Seperti perhatian mu Aku tak peduli Pada sajak sajak…

Perjalanan Pulang

Sepeda motor ku laju pelan Jam dua malam Garis jalan putus putus Seperti degub detak jantung ku Oh malam yang sunyi Tawa kelakar sahabat ku Masih singgah ditelinga Canda tawa tak tau arah Lampu lampu jalan merenung sendiri Menyibak kegelapan Bersinar kemuning Layak nya senja yang masih kecil Anak anak muda Bermain gitar Mengusik kesunyian…

Gerbong Kereta Depan

Kau terbelenggu dalam gerbong kereta Bersama orang orang diam tanpa jiwa Menunduk Dan kau hanya menatap keluar jendela Kebisuan bertahta didalamnya Kau terjebak dalam kesombongan nya Tak peduli orang orang harus berhenti Tak peduli sawah sawah Pak Tani Tak peduli gubuk gubuk bergandeng lesu Tak peduli kabel listrik berjuntaian Tak peduli jembatan yang sendiri Kau…

Suara Tuan Tuan

Hei rakyat rendahan Kebahagian mu ku tentukan dari balik meja Kau tak berdaya Angka angka ku hitung Agar banyak yang masuk aku punya kantung Hei rakyat kecil Aku tak sudi selangkah pun Membuat telapak kaki ku menginjak tanah mu Tangis anak istri mu Tak bakal terhembus daun telinga ku Hei rakyat tulang belulang Perut mu…

Gitar Tua

Seribu jari telah memetik Benang mu yang tak lagi angkuh Bergetar Berirama Ku sandingkan pada bahu Ku nyanyikan di depan warung Di depan pintu gerbang Di lampu merah Di pasar Di alun alun kota Di ketidakpedulian Di kesepian Menghibur diri sendiri Di bawah temaram setengah bulan purnama Pada rindang pohon yang menghalangi sinarnya Kunyanyikan lagu…

Hampa

Angin sejuk Merasuk hati Diam Jangan terburu membaca Rasakanlah sayang Angin sejuk Merasuk hati Dingin Damai Luas Pelan pelan sayang Rasakan Segala resah Ku labuhkan pada sungai Terseret arus Tergerus Hanyut Aku sedang ingin tidak memikirkan apapun Kecuali wajah mu Sayang Tiba tiba aku hampa picture

Apa Kabar Suara Hati ?

Aku berpuisi tentang kehidupan Kau bilang : kerjakan saja tugas kuliah mu ! Padahal saat kau mengerjakan tugas kuliah, aku tak pernah meminta mu berpuisi   Aku demo untuk tanah petani yang tergusur Kau bilang : selesaikan saja skripsi mu ! Padahal saat kau menyelesaikan skripsi, aku tak pernah meminta mu demo   Aku diskusi…

Media (anti) Sosial

Membuat ku bingung Ini bukan puisi lho ya Jadi tak bakal puitis Ini kenyataan   Hari ini kalau kau buka media sosial Nelangsa hati mu jadinya Orang yang salah berargumen Di debat Di damprat Di semprot dengan ludah yang keluar saat berteriak koar koar Toots keyboard pada mencelat pantang perintang Layar hape touch screen retak…

Lukisan Kata Kata

Aspal tergelar Dari telapak kaki ke ujung mata Selebar bentangan tangan Diapit sawah yang terpaku padi Berakhir di kaki pegunungan Para petani Beramai mencangkuli Teko teh dan gelas plastik Tergeletak dibawah pohon kersen Sekawan Burung Bangau putih Menancakpan paruh di tanah Yang padi nya baru di tanam kemarin Masih rendah Anak anak pondok pesantren Berpeci…

Telah Lama Ku Ingat

Di sebuah pasar yang melamun Di tepian pantai yang merenung Wanita renta setengah baya Menjajakan dagangan nya Nampak kacang rebus yang kusam dan sedih Tak lagi hangat Kerupuk yang tak lagi semangat Melempem Teh hangat yang loyo dalam plastik bening Mengkerut Selendang jarik yang pasrah dijadikan alas kesedihan Tak tahu siapa yang dia tunggu Ia…